Perbandingan Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) dengan Negara Lain

Abustan Abustan

Abstract


The basic idea of the establishment of DPD is the desire to better accommodate regional aspirations and also give a major role to the region in the political decision-making process for matters relating to the region. In the document of Strategic Plan (Renstra) of the House of Regional representatives (DPD) period 2015-2019 mention that the main objective of DPD RI is the realization of DPD RI as one of the State institutions that play an active role and maintain a balance in the state authority in the field of legislative, through the optimization of the implementation of the parliamentary function. The problem formulation in this journal is how to increase the status of DPD in establishing and strengthening the political representation in Indonesia and how to setup the authority of the Regional Representative Council (DPD) Republik Indonesia (RI) when compared with other countries. The discussion in this journal is the change of UUD 1945 to change the system of representatives in the state of Indonesia that previously did not reveal the actual representation. With the presence of the DPD, in the Indonesian representative system, the DPR is supported and should be strengthened by the DPD. With such conditions, the DPD institution has a very high legitimacy, which should have a high formal authority anyway, but in reality the formal authority is very low. The arrangement of the authority of DPD must be done through the Fifth Amendment UUD 1945. This is necessary for the DPD to have a constitutional certainty, so it will guarantee the continuity of the performance of DPD in the present and future. This arrangement is done by considering two things: first, Dpdas the same representative institution with the House of Representatives, should be engaged optimally in the process of making political decisions nationally. Secondly, the Fifth Amendment of the UUD 1945 is intended to assert the DPD as an institution that holds the authority to form legislation; Has a function of legislation; budget function; and surveillance functions; Then to change the articles that have been debilitating the DPD, namely related to the authority to file a RUU, discussing the RUU and also give the last consideration, this change is also done so that the DPD can then supervise with the giving of the right to ask questions, the right to ask for information and the right of a questionnaire and DPD RI through its tools (honorary body) in charge of implementing the code, is expected to always evaluate and revise the rules of DPD RI that is deemed to be no So ideally, do a comparison of the code of ethics with other countries, in order to minimize the misuse of budgets, duties and authorities.


Keywords


comparison, regional Representative Council, other countries

Full Text:

PDF

References


Abustan, Hukum Konstitusi Negara dan Demokrasi, edisi Pertama Raja Grafindo, Jakarta, 2019

___________, Sosiologi Negara Hukum, Cetakan Pertama, Press UID, Jakarta, 2018

Amirudin Ilmar, Pemakzulan Donald Trump, dari FH Unhas, Makassar

Anggalana, Tinjauan Hukum Peraturan Dewan perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 2 tahu n2018 tentang Kode Etik Dewan Perwakilan Daerah Indonesia, (Makalah) di Universitas Bandar Lampung.

Agus Haryadi, “Bikameral Setengah Hati”, Kompas, (15 Mei 2002), hal. 4. Dalam hal jumlah anggota mungkin tidak selalu memengaruhi terhadap kekuatan kamar kedua dalam sistem bikameralisme. Dalam pengambilan-pengambilan keputusan, misalnya saja keputusan yang diambil secara voting, mungkin bisa kalah, tetapi kekuasaan sebenarnya adalah kekuasaan yang diberikan terhadap kamar kedua tersebut oleh konstitusi. Dalam hal ini dapat diambil contoh adalah House of Lord (kamar kedua/majelis tinggi) Inggris.

Ahmadi. (2013). Implikasi Amandemen UUD 1945 Terhadap Pergeseran Kekuasaan Kehakiman. Al-Izzah, 1.

Anonim. (2016). Uji Materi UU MD3 ke MK demi Kepastian Hukum.

Archilbad Cox, “The Role of the Supreme Court: Judicial Activism or Self-Restraint?. Maryland Law Review Volume, 47.1987. Hlm. 118-119

Asshiddiqie, J. (1996). Pergumulan Peran Pemerintah dan Parlemen dalam Sejarah Telaah Perbandingan Konstitusi Berbagai Negara. Jakarta: UI Press.

Bagir Manan, DPR, DPD, dan MPR dalam UUD 1945 Baru, Cetakan Ketiga, FH UII Press, Yogyakarta, 2005, hlm. 81

Barrena, I. (2003). Conflict Analisys. International Federation of Red Cross and Red Crescent.

Buku Renstra DPD RI periode 2015-2019, hal.15

Burky, J. S., & Perry, G. (1998). Beyond the Washington Consensus: Institution Matter, World Bank Latin American and Caribbean Studies. Viewpoints.

Cresswell, J. W. (2002). Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches. Jakarta: KIK Press.

Dewan Perwakilan Daerah, Pokok-pokok UsulPerubahan Kelima UUD Negara RI Tahun 1945, Jakarta:Kelompok DPD di MPR, 2013. Hlm.44

Efriza Studi parlemen dan lanskap poltik Indonesia, setara pres, Malang 2014, hlm.167-168

Erwin Chemerinsky. The Constitution is Not “Hard Law” The Bork Rejection and the Future of Constitutional Jurisprudence. Constituional Comentary Volume 6:29. 1989. Hlm.37

Febrian. (2018, Juli Jumat). Pengertian dan Bentuk Bentuk Keputusan Bersama.

Firmansyah. (2005). Lembaga Negara dan Sengketa Kewenangan anta Lembaga Negara. Jakarta: 7.

Fundamentality Without Fundamentalism, 107Harvard Law Review. 30,34 (1993)

Hakim, R. N. (2017, Juni 04). https://kompas.com/read. Retrieved Juli Senin, 2018, from https://nasional.kompas.com: https://kompas.com

Isra, “House Of Representatif” Jakarta tahun 2006, Hlm.25

Istilah ini menunjukkan bahwa parlemen yang terbentuk berdasarkan pada pembagian kekuasaan dilakukan secara sejajar dan menjalankan kewenangannya masing-masing secara fungsional. Hal ini berbeda dengan medium strength bicameralism yang dikonstruksi secara asimetris yang berarti asimetris bahwa salah satu lembaga mempunyai kekuasaaan yang subordinat dari lembaga lainnya. Corak ini bisa dilihat pada DPD menurut UUD 1945.

Jack M. Balkin, Framework Originalism and The Living Constitution, Northwstern University Law Review. Vol.103, No. 2. 2009. Hlm.590.

Jimly Asshiddiqie, Konstitusi Ekonomi. Jakart Penerbit Buku Kompas, 2010 Hlm. 74

Jimly Asshiddiqie, Pergumulan Peran Pemerintah dan Parlemen dalam Sejarah, Telaah Perbandingan Konstitusi Berbagai Negara, UI Press, Jakarta, 1996, hlm. 39.

Jimly, Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi, Sekretariat Jendral dan Kepaniteraan MK RI, Jakarta, 2006, hlm. 35

Jimly, Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi, Sekretariat Jendral dan Kepaniteraan MK RI, Jakarta, 2006, hlm. 35

Legowo, “Konsep Ketataegaraan Indonesia” 2005 hal. 7

Lusk, M., & BW, P. (1991). Bureaucratic and Farmer Participation in Irrigati Farmer Participation and Irrigation Organization. Wesrew Press.

M.D.A Freeman, Lloyd’s introduction to juricprudence, 7th Edition. London: Sweet & Maxwell Ltd.,2001,hlm,904-905

M.D.A Freeman, Lloyd’s Introduction to Juricprudence, 7th Edition. London: Sweet & Maxweel Ltd., 2001, hlm 904-905

M.Yusuf Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (Arsitektur Histori, Peran dan Fungsi DPD RI terhadap daerah di era otonomi daerah) Graha, Ilmu Yogyakarta 2013 Hlm.35

Miriam Budiardjo, Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Ctk. Keduapuluh dua, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001, hlm. 152

Miriam Budiardjo, Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Ctk. Keduapuluh dua, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001, hlm. 152

Mirza Nasution, Negara dan Konstitusi, http://library.usu.ac.id.

Mirza Nasution, Negara dan Konstitusi, http://library.usu.ac.id.

Mochtar Kusumaatmadja dan Arief Sidharta, Pengantar Ilmu Hukum, Alumni, bandung, 2000, hlm.10

Moeleong, L. (2006). Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Morrissan, ”Hukum Tata Negara RI Era Reformasi”, Ramdina Prakarsa, Jakarta, 2005

Morton J. Horwitz, Foreword: The Constituion of change:Legal

Morton J.Horwitz, Foreword: The Constitution of Change : Legal Fundamentaly Without Fundamentalism,107Harvard Law Review. 30,34 (1993)

Muh.Risnain & Sri Karyati, Menimbang Gagasan Perubahan Konstitusi dan Tata Cara Perubahan Konstitusi Republik Indonesia 1945, Kajian Hukum dan Keadilan (Jurnal IUS), Volume, Nomor 1, April 2017.Hlm.111; Istilah ini untuk menunjukkan bahwa parlemen yang terbentuk berdasarkan pada pembagian kekuasaan yang dilakukan secara sejajar dan menjalankan kewenangannya masing-masing secara fungsional. Hal ini berbeda denga medium-strenght bicameralism yang dikonstruksi secara asimetris yang berarti asimetris bahwa salah satu lembaga mempunyai kekuasaan yang subordinat dari lembaga lainnya. Corak ini bisa dilihat pada DPD menurut UUD 1945

Nur Hafni, Pemetaan Actor Pengambilan Keputusan Pimpinan dan Fungsi Kewenangan DPD RI Pasca Revisi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2018 Tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD, (Tesis), Universitas Islam Jakarta Program Magister Ilmu Hukum

Ni’Matul Huda, Hukum Tata Negara Indonesia: Edisi Revisi Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada, 2013,hlm.190

North, D. C. (1990). , Institution, Institutional Change and Economic Performance. New York: Cambridge University Press.

Pacaran, J. M. (2015). Peran Strategis DPD-RI Bagi Pembangunan Daerah.

Pasaribu, S. M. (n.d.). Konflik Kelembagaan Dalam Pemanfaatan dan Penataan Lahan Pertanian.

Rifandy Ritonga, Etika Legislatif dan Kode Etik, (Makalah) di Universitas Bandar Lampung

Russell J. Dalton, Citizen Politics, Public Opinion and Political Parties in Advanced Western Democracies, Chatam, NJ, Chatam House Publishers, 1996, pp. 67-85

Saldi isra, dalam “Kata Pengantar,” Feri Amsari, Perubahan UUD 1945: Perubahan Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers, 2011, h.xv

Saldi Isra, dalam “Kata Pengantar”, Feri Amsari, Perubahan UUD 1945 : Perubahan Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Jakarta:Rajawali Pers:2011,h.xv

Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Bandung : Citra Aditya, 2000, hlm.20

Setyawan , L. F. (2016 , Oktober 21). Teknik Pengambilan Keputusan dalam Sidang. Retrieved Juli Jumat, 2018, from Kompasiana: https://www.kompasiana.com/

Sinaga Kekuasaan Pemerintah Pusat, Jakarta 2011

Sinaga, B. N. (2011, Mei 29 ). Kajian Keberadaan, Fungsi, dan Peran Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia.

Sinaga, B. N. (2011, Mei 29 ). Kajian Keberadaan, Fungsi, dan Peran Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia.

Sinaga, B. N. (2011, Mei 29 ). Kajian Keberadaan, Fungsi, dan Peran Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia.

Sulardi. (Juni 2012). Rekonstruksi Kedudukan DPD Dan DPR Menuju Bikameral Yang Setara. journal.umy.ac.id, 139.

Thomas Grey. Do We Have an Unwritten Constitution Adjudication: An Assesment and a Different Perspective. Ohio State Law Journal. Volume 93. 1 Januari 1983. Hlm. 107

Tobing, Jakob, ”Risalah Rapat Paripurna Ke-7 Sidang Tahunan MPR RI”, Setjend MPR RI, Jakarta, 2001

Uphoff, N. (1999). The Role of Institutions in Rural Community Development: What Have We Learned? Report of APO Study Meeting on Role of Institutions in Rural Community Development: Shat Have We Learned? Colombo: Report of APO Studi Meeting on Role of Institutuion in Rural Community Development.

Wiliam G. Andrews, Constituion and Constitutionalism, 3rd edition. New Jersey:Van Nostrand Company, 1968 Hlm. 12-13

Wiliam G.Andrews, Constituions and Constituonalism, 3rd edtion New Jersey:Van Nostrand Company, 1968, Hlm.12-13

Wira Atma Hajri, Living Constitution: Cara menghidupkan UUD 1945, Yogyakarta:Depublish, 2017 Hlm.2




DOI: http://dx.doi.org/10.33087/wjh.v4i1.173

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Wajah Hukum Published by Faculty of Law, Batanghari University
Adress: Fakultas Hukum, Jl.Slamet Ryadi, Broni-Jambi, Kec.Telanaipura, Kodepos: 36122, email: wajahhukum.unbari@gmail.com


Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.